(Gbr Funzug.com) Bagai makan buah simalakama: keadaan yang serba salah. Biasanya digunakan untuk orang yang sedang menghadapi dua pilihan, dan kedua-duanya akan menyebabkan orang tersebut mengalami hal yang tidak mengenakkan.
Yang dihadapi oleh keluargaku hari ini Saptu 28 Mei 2011 mungkin pas sekali dengan ungkapan tersebut. Sekitar Jam 08:00 WITA Saya sedang santai didepan rumah sambil membaca Koran Pagi Kaltim Post. Baru beberapa lembar selesai membaca, Saya kedatangan tamu yaitu bibi yang membantu rumah tetanggaku. Si Bibi ini menanyakan apakah ada Bibi Pembantu Saya. Sontak langsung Saya memanggilnya.
Tidak terlalu lama kedua Bibi ini bertemu dan bicara dengan bahasa daerah di depan rumah Saya. “Ini pisang (Satu Sisir) untuk Ibumu dirumah ini…” Kata Bibi tetangga. “Pisang dari mana ini?” tanya Bibi Saya dengan heran. “Oh..ini pisang dari Majikanku disuruh diberikan ke keluarga ini…”jawabnya tangkas. Singkat cerita Bibi Saya menerima sesisir pisang tersebut dan diberikan kepada istri Saya.
Istri Saya seharusnya senang dan berterima kasih mendapatkan rezeki pemberian sesisir pisang tersebut, namun buru-buruh Istri Saya menemui Saya dengan muka serius. “Ini pasti pisang orang lain yang ditebang tampa ijin..!” Kata istri Saya sedikit gusar. “Kok bisa..?” Jawab Saya. “Pisang ini pasti milik Ibu M..” Lanjut Istri Saya. “Pasti ditebang oleh Tetangga ini tampa izin pemiliknya” Kata Istri Saya lagi. “Kok berani-beraninya menebang Pisang Orang lain dan hasilnya diberikan ke kita…?” “Benar-benar tetangga yang aneh hasil menebang pisang orang lain diberikan ke kita..” Istriku tertawa kecut.
Mendengar hal tersebut Saya juga ikutan tertawa. Memang tetangga Saya ini sangat aneh(Padahal baru pindah). Kejadian ini sebenarnya sering terjadi. Pernah tanaman pisang Saya yang ditanam dibelakang rumah tiba-tiba ditebang oleh tetangga Saya itu tanpa permisi. Masih untung buah pisang masih diletakkan dibelakang rumahnya sehingga langsung Saya ambil kembali. Kejadian-kejadian menebang pohon pisang, mengambil buah-buahan milik tetangga dan yang lainnya tampa ijin sudah menjadi buah bibir tetangga lainnya.
Kembali kejadian pemberian sesisir pisang tadi. Bagi keluarga Saya jadi bingung. Bila tetap menerima berarti turut menikmati hasil “jarahan” tetangga Saya itu. Namun bila tidak menolak takut tetangga itu tersinggung.Akhirnya Istri Saya menelepon Ibu RT yang kebetulan bersebelahan dengan tetangga pemilik pisang yang diambil tetangga Saya tersebut. Istri Saya menyampaikan permasalahn diberi sesisir pisang oleh tetangga Saya. Ibu RT tersebut tentunya sangat kaget. Padahal sebelumnya Ibu M tetangga Ibu RT yang kehilangan pisang sudah merencanakan untuk menebang pohon pisang tersebut setelah buahnya agak matang. Berarti kalah cepat dengan tetangga Saya ini he—he.
Simalakama…..simalakama….tetangga Saya….
0 comments:
Post a Comment